Pagi wisatawan yang berkeyakinan Hindu sebelum memulai prosesi melukat membawa sesajen berupa pejati, dupa , dan canang sari untuk dihaturkan saat sembahyang.
Bagi wisatawan non Hindu apabila tidak menggunakan kamen diwajibkan untuk menggunakan pakaian yang sopan.
Tata cara melukat pun sudah diinfokan oleh papan pengumuman yang terpasang di lokasi. Para wisatawan harus berurutan melakukan proses melukat mulai dari pancoran di utara sungai Banyu Asih.
Konon dengan mengikuti setiap tahap melukat di sebelas pancoan mata air dapat mengobati segala macam bentuk gangguan penyakit baik medis dan non medis.
Mata air yang dipakai untuk melukat dapat dibawa pulang dengan jerigen yang dijual oleh penduduk lokal disana.

Usai melukat di sebelas mata air, wisatawan akan diberikan bija (red : sarana upacara berupa beras yang telai diberikan doa) dan dipercikan tirta oleh pemangku (red : pemuka Agama Hindu) di Pura Tirta Sudamala.
Para Wisatawan juga disediakan loker untuk menyimpan barang bawaan dan kamar ganti bilas usai melakukan proses ritual melukat. Untuk masuk ke Pura Tirta Sudamala wiasatawan tidak dikenakan biaya masuk, namun wisatawan dapat berdonasi seikhlasnya untuk operasional perawatan Pura Tirta Sudamala.













