Reni mengungkapkan, selama lima hari pameran, total transaksi penjualan dari 11 IKM yang difasilitasi tersebut mencapai USD651.928,65 atau sekitar Rp 9,9 miliar.
“Nilai transaksi ini masih akan meningkat mengingat terdapat 59 kesepakatan dengan para calon buyer.Hal ini menunjukkan bahwa IKM kita tetap memiliki daya saing cukup tinggi di pasar global meskipun pameran ini merupakan yang perdana sejak pandemi Covid-19,” paparnya.
Reni menambahkan, kinerja ekspor pelaku IKM yang menjadi peserta pameran Ambiente dinilai cukup gemilang setiap tahunnya.
Pada 2019, delapan peserta yang terlibat mencatatkan total nilai penjualan saat pameran sebesar USD1,57 juta, dan nilai ekspornya setelah pameran menembus USD3,28 juta.
Sebelumnya, pada 2018, nilai penjualan dari enam peserta saat pameran tercatat USD705,2 ribu dan nilai ekspor setelah pameran menjadi USD1,2 juta.
Sedangkan, pada 2017, delapan peserta mencatatkan nilai penjualan sebesar USD439,6 ribu dengan nilai ekspor setelah pameran mencapai USD950 ribu.
Menurut Reni, parapelaku IKM kerajinan di tanah air memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Kemenperin mencatat,kinerja ekspor produk kerajinan nasional mencapai USD949 juta pada tahun 2022.
“Melihat kondisi tersebut, peluang pengembangan industri kerajinan terbentang luas,” imbuhnya.
Apalagi, pangsa pasar industri kerajinan di Indonesia baru 2,5 persen dari pasar dunia dan bisa terus berkembang.
Oleh sebab itu, Ditjen IKMA Kemenperin semakin aktif mempromosikan beragam produk kerajinan nasional agar mampu menguasai pasar domestik dan internasional.
Pada pembukaan Paviliun Indonesia, Konjen RI Frankfurt Acep Somantri mengungkapkan pameran Ambiente merupakan gelaran internasional yang penting dan strategis untuk mempromosikan produk IKM nasional ke mancanegara.
“Kami berharap agar Indonesia dapat memanfaatkan Ambiente untuk meningkatkan eksposur dan jejaring, sehingga dapat menggenjot ekspor produk Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Industri Aneka dan IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Ditjen IKMA, Ni Nyoman Ambareny yang turut mendampingi Konjen RI Frankfurt pada saat pameran tersebut menyampaikan, tahun ini adalah yang ke-14 kalinya Ditjen IKMA Kemenperin berpartisipasi dengan mengikutsertakan para IKM binaannya.
“Fasilitas yang diberikan kepada peserta berupa pengiriman produk dan penyediaan lahan pameran seluas 133 m² dengan konstruksi desain khusus untuk mendorong eksposur display yang optimal,” ungkapnya.
Duta Besar Republik Indonesia untukJerman, Arif Havas Oegroseno turut mengunjungi Paviliun Indonesia di Ambiente pada 6 Februari lalu.














