“Penyebaran PMK ini sangat cepat, sehingga kami segera mengambil langkah cepat untuk menangani kasus yang ada. Tim kesehatan hewan kami sudah dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan, dan penanganan pada sapi yang terpapar,” kata Pj Gubernur Jatim, Adhy Karyono, beberapa waktu lalu.
Sejak awal Januari 2025, kasus PMK pada sapi ditemukan di sejumlah kabupaten/kota di Jatim, di antaranya Sidoarjo, Jember, Pasuruan, dan Banyuwangi.
Kepala Disnak Jatim, Indyah Aryani mengakui bahwa ada 30 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan kasus PMK dibanding kasus yang terjadi tahun 2023 dengan hewan ternak yang paling banyak terinfeksi adalah sapi.
“Kami telah melakukan penanganan, dan melakukan sudah drop obat-obatan dan vitamin kepada kabupaten/kota,” ujarnya.
Tak hanya itu, Indy juga memastikan kalau bantuan vaksin sudah dikirim. Bantuan tersebut dikeluarkan oleh Pusat Veteriner Farma (Pusvetma).
“Kemarin bantuan vaksin dari Pusvetma didrop (ke daerah-daerah),” katanya.
Wabah PMK sendiri disebabkan oleh RNA virus kelompok picorna, atau disebut virus terkecil yang menyerang hewan berkuku genap.
Indy menjelaskan, vaksinasi menjadi cara utama untuk menangani wabah PMK, kemudian melakukan pengobatan terhadap ternak yang teridentifikasi luka, dan melakukan sterilisasi di peternakan supaya meminimalisir penularan.














