Kelompok yang tak diniatkan sebagai komunitas gerakan seni itu, sejak awal dibangun dengan semangat kekentalan kekerabatan persaudaran antarteman, tanpa mengkotak-kotakkan jurusan, grafis, seni murni, desain dan lainnya.
Itulah yang mendasari spirit pameran 40+ Alive.
Selama ini, Whani Darmawan dikenal sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di berbagai pementasan maupun film.
Ia juga telah banyak menghasilkan karya tulis yang dibukukan.
Sejak 1985 sudah bertekun di dunia akting.

Whani Darmawan telah mencatatkan permainannya di panggung-panggung bergengsi dan juga film.
Beberapa film yang menorehkan apresiasi atas seni aktingya antara lain : Drupadi (Riri Riza 2008), Pendekar Tongkat Emas karya sutradara Ifa Isfansyah, 2014), Monolog Diponegoro (Armantono 2018).
Pada tahun 2019 ia mencatat prestasi gemilang dengan menyabet Piala Citra FFI sebagai the best suporting actor melalui film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho.
Ia juga mendapatkan banyak nominasi dari berbagai festival film dalam perannya sebagai Darsam di film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo.
Lantas mengapa Whani Darmawan kini melukis? Bahkan berani memamerkan karyanya itu?













