“Kita bersama hindari hal semacam ini apalagi sekarang banyak yang mengeluhkan sulitnya pupuk subsidi seperti di Sulsel, Sumut dan Aceh beberapa saat lalu. Jangan sampai ini nanti akan memperkeruh suasana, ini perlu antisipasi,” sambung Bambang.
Berkaitan musim kemarau ini, Bambang menyebutkan pihak Kementan bergerak cepat dengan berbagai upaya. Gerakan pompanisasi 69 ribu hektar, pipanisasi, distribusi 7.800 pompa air, membangun sumur dangkal, penyaluran benih, asuransi usahatani dan lainnya.
Untuk wilayah Pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah, Ditjen Tanaman Pangan sejak Juli lalu mendorong perubahan cara bercocok tanam padi. Kementan perkenalkan sistem budidaya padi hemat air dengan tebar benih langsung.
“Tidak seperti umumnya, pada sistem ini pertanaman tidak perlu digelontor air tapi hanya perendaman lahan berkala. Tanaman padi tidak perlu penggenangan, cukup dipertahankan tanahnya basah,” jelas Bambang.
*Update Data Luas Padi*
Sebelumnya, Kepala Seksi Penyiapan Statistik Tanaman Pangan BPS, Hariyanto mengatakan pada dasarnya BPS masih membuka peluang perbaikan luas panen untuk perbaikan KSA. Agar bisa tercatat dengan baik, lahan di luar KSA bisa diusulkan ke BPS asal ada bukti foto GPS dan open camera.















