Dengan pesatnya perkembangan go digital, menerapkan strategi big data dan IoT (Internet of Things) merupakan suatu keharusan.
Hiramsyah menjelaskan, digital menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Fakta menunjukkan melalui digital semua bisa dilakukan dengan cepat.
Program pemasaran dan promosi pariwisata kini sebesar 50 sampai 70 persen telah menggunakan mekanisme digital.
Kementerian Pariwisata juga bermitra dengan hampir semua perusahaan digital terbaik di dunia sesuai dengan pasarnya masing-masing seperti Google, Baidu, Alibaba, Expedia, Grab, Traveloka, tiketdotcom, dan lainnya.
“Saat ini orang yang mau berwisata sudah jarang yang datang langsung ke travel agent karena tidak efisien dan sangat menyita waktu. Hanya dengan smartphone di genggaman tangan sekarang transaksi belanja paket wisata online sudah bisa dengan mudah dilakukan atau istilahnya LBP (Look, Book and Pay),” terangnya.
Menurut penelitian Nielsen yang dikutip di Techinasia, sebanyak 13% total transaksi tercatat untuk travel berupa ticket flight atau hotel pada Harbolnas beberapa tahun lalu.
Harbolnas memberikan kesempatan dan euforia bagi penggemar belanja online, termasuk belanja paket wisata melalui aplikasi airy, pergidotcom, bookingdotcom, zenrooms, nusatrip dan lainnya.















