Afiyati terkejut dilapori orang tua yang menemukan anaknya yang masih pelajar sekolah dasar (SD) terpapar pornografi hingga tingkat kecanduan.
“Ibunya datang menangis-nangis. Anaknya duduk di kelas 4 SD kecanduan pornografi. Saat ini anaknya harus berhenti sekolah untuk menjalani terapi selama kurang lebih satu setengah tahun,” kata Afiyati.
Kasus anak terpapar pornografi itu sebetulnya kesalahan orang tua.
Menurut Afiyati, umumnya anak mendapatkan gadget canggih dengan teknologi tinggi, hanya karena orang tua ingin anaknya ikut gaya-gayaan.
Afi juga mengimbau kepada orangtua, agar terus mengawasi anak-anaknya dari permainan game secara berlebihan.
Sebab jika dibiarkan secara berkesinambungan maka anak akan malas berpikir dan hilang kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat.
Dalam seminar dengan tema Berteknologi Dengan Sehat di SMP 10 Al-Azhar Kembangan, Jakarta Barat, Afi menjelaskan dampak anak usia dini diperkenalkan dengan Gadget.
“Ada cara untuk memblokir konten pornografi dan memantau gadget anak-anak kita. Saya bersama teman-teman juga selalu memblokir konten video porno tapi kendalanya yaitu ketika kita blok 5 Video yang masuk 20 video, seperti mati satu tumbuh seribu,” tuturnya.














