Namun, kelompok ini menguasai lebih dari separuh simpanan nasional, dengan total nilai Rp4.701,86 triliun atau 53,5% dari total simpanan.
Fenomena ini menggarisbawahi kesenjangan signifikan antara nasabah kecil dan pemilik modal besar dalam sistem perbankan Indonesia.
Dari sisi jenis simpanan, rekening tabungan tetap mendominasi, mencapai 98,1% dari total rekening dengan 589,04 juta rekening.
Sementara itu, giro dan deposito masing-masing berkontribusi sebesar 1% dan 0,9%.
Menariknya, distribusi rekening berdasarkan jenis bank menunjukkan dominasi bank milik pemerintah.
Dengan 339,90 juta rekening atau 56,6% dari total, bank pemerintah menjadi pilihan utama masyarakat.
Diikuti bank swasta nasional dengan 210,4 juta rekening, lalu Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan 46,87 juta rekening.
Bank campuran dan asing masing-masing mencatat angka 2,96 juta dan 157.735 rekening.
Pertumbuhan signifikan ini membawa pesan mendalam tentang perlunya pemerataan akses ke layanan keuangan yang lebih inklusif dan program tabungan yang lebih menarik, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Laporan LPS juga menjadi pengingat akan urgensi mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia.
Ketimpangan akses ke simpanan besar dan kecil bisa berdampak pada keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.













