Oleh: Said Abdullah-Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI
Seperti tiada kabar sebelumnya, sontak kita di kejutkan dengan rencana PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) mengimpor 105.000 mobil niaga dari India.
Aksi korporasi dari dana APBN ini perlu di pikirkan ulang.
Presiden Prabowo mencanangkan berbagai program prioritas seperti MBG, dan KDPM salah satu tujuannya untuk memperkuat perekonomian domestik, terutama membangkitkan ekonomi pedesaan.
MBG dan KDPM diharapkan mendorong tingkat permintaan bahan bahan pangan yang bisa dipenuhi dari desa.
Agar peningkatan permintaan bisa dipenuhi, dari sisi hulu, tugas Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
Dengan demikian sirkulasi perekonomian di desa tumbuh, dan dengan sendirinya mengurangi produk pangan impor.
Arsitektur perekonomian inilah yang seharusnya dipahami utuh oleh bawahan presiden, termasuk yang ada di BUMN.
Rencana PT Agrinas mengimpor 105.000 mobil niaga dari India menandakan belum sepenuhnya memahami cara berfikir presiden.
Mari kita buka data saja, sejak 2011 pertumbuhan industri maknufaktur selalu berada dibawah pertumbuhan PDB.
Padahal sektor manufaktur harusnya menjadi andalan kita mengembangkan sektor hilir dari Sumber Daya Alam (SDA).












