Bahkan, kata dia, surat gembala prapaskah uskup se-Flores pada Maret 2025 lalu, dengan tegas menyerukan pertobatan ekologis dan menolak proyek geotermal karena tidak sesuai dengan konteks geografis Flores (gunung, bukit, sumber air terbatas) dan dapat menimbulkan dampak serius pada pertanian, air bersih, dan kehidupan masyarakat.
“Kita tahu bahwa tahun ini gereja telah mengambil posisi yang jelas mengenai geotermal. Itu ada Surat Gembala Pra-Paskah 2025. Menurut saya, tokoh-tokoh Gereja Katolik sangat jelas dalam persepektif mereka, dalam upaya mereka menyokong dan membantu warga lokal yang merasa dirugikan pembangunan geothermal,” jelas Timothy.
Meskipun demikian, Timothy sendiri memahami adanya pro kontra dalam proses pembangunan termasuk rencana proyek geothermal.
Karena itu, kata dia, selalu ada kelompok yang mendukung geothermal dengan berbagai alasannya dan ada yang menolak geothermal dengan segala alasannya termasuk di Manggarai.
Bahkan, kata dia, masyarakat adat di sekitar lokasi geothermal juga terjadi pro kontra soal geothermal.
“Ketika Anda pergi ke kampung lokasi geotermal, seperti Wae Sano, Wewo, Poco Leok, ada orang-orang yang pro, dan ada orang-orang yang kontra. Di beberapa tempat ada yang lebih kontra, di beberapa tempat ada yang lebih pro. Saya mengerti mengapa orang-orang menolak, dan saya mengerti mengapa orang-orang mendukung geotermal. Dan saya pikir kedua-duanya sangat berani dalam usaha mereka untuk melakukan hal yang menurut mereka benar,” beber Timothy yang sudah lama melakukan penelitian pembagunan di Manggarai.















