Bosisme Lokal Manggarai Jadi Sumber Masalah
Pada kesempatan itu, Analis Politik Senior Boni Hargens menegaskan bosisme lokal menjadi sumber masalah pembangunan di Manggarai Raya.
Menurut Boni, bos-bos lokal ini mengkooptasi pembangunan di Manggarai demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
“Berdasarkan penelitian saya sejak tahun 2005, di berbagai daerah termasuk di Manggarai, bos-bos lokal ini sudah mulai mengendalikan pembaharuan sejak proses politik Pilkada. Dengan berbagai sumber daya yang mereka miliki, baik itu sumber daya ekonomi, politik, birokrasi bahkan sosial budaya, bos-bos lokal ini mengatur kepala daerah yang akan menang di proses pilkada. Setelah menang, mereka mengendalikan Bupati dalam proses pembangunan,” jelas Boni.
Boni mengakui tidak mudah melawan bosisme lokal khusus di Manggarai karena mereka memiliki akses dan menguasai kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan birokrasi lokal atau daerah.
Menurut Boni, ada 2 langkah penting melawan bosisme lokal ini, pertama, perkuat partisipasi bermakna dan penegakan hukum.
“Kelompok masyarakat baik itu gereja, kelompok adat, media, dan mahasiswa harus memperkuat partisipasi dalam kebijakan-kebijakan publik termasuk proses pembangunan. Harus mengontrol jalannya pemerintahan dengan suara-suara kritis dan diskusi hari ini merupakan salah satu bentuk partisipasi bermakna dan diharapkan diteruskan ke depannya,” imbuh Boni.















