Ahok bahkan memberikan tanah negara 20 hektar untuk mendirikan pesantren di Desa Gunung, Kecamatan Manggar, Kabupaten Beltim. Namun pesantren itupun tidak dikuasainya, tetapi diserahkan kepada kiai di Beltim.
Oleh karenanya, Suyanto tidak yakin Ahok berniat menistakan agama Islam. “Ahok memberangkat haji serta umroh bagi beberapa orang. Yang saya ingat, sejak menjadi Bupati di Beltim, ada sejumlah orang yang diberangkatkan haji seperti Haji Agung, Haji Jahani dll. Saya masih menyimpan suratnya yang ditandatangani Basuki,” tuturnya.
Selain itu, bentuk kepedulian Ahok terhadap Islam ditunjukkannya dengan mengingatkan waktu sholat Jumat. “Bahkan suatu hari waktu saya bawa mobil bersama Basuki, pas sholat Jumat, dia mengingatkan saya untuk sembahyang. Namun saya menjawabnya belum siap untuk sholat. Saya lewat saja. Dan saya pasti mendapat teguran dari Basuki kalau lalai menjalankan sholat Jumat,” kenang Suyanto.
Dia mengaku, kegiatan Basuki ini sangat positif. Hal ini terlihat tidak adanya penolakan dari masyarakat. Karenaya, tak heran, jika masyarakat sangat mendukung apa yang dilakukan Basuki. “Masyarakat keturunan disana cuman 1,2% dan selebihnya beragama Islam. Dan semua mendukung Ahok,” imbuhnya.
Suyanto mengaku politisasi Al Maidah 51 ini bukan hanya terjadi di Pilkada DKI Jakarta. Pada waktu pilgub Bangka Belitung 2007 lalu, isu Al Maidah 51 ini menyerang Basuki.












