Menurut Aiman, apabila putusan MKMK bisa mengembalikan rasa kepercayaan publik maka itu hal positif tapi kalau hal itu tidak ada di putusan MKMK besok maka sangat berbahaya.
Karena nanti MK tidak dipercaya, legitimasi MK diragukan.
“Apapun putusannya saya berharap bisa memberikan rasa keadilan masyarakat,” kata Aiman.
Menurut Aiman, masalah ini bukan soal siapa yang diuntungkan dari putusan MK.
Tapi mempersoalkan proses pengambilan keputusan di MK yang bermasalah.
“Ini kepedulian nurani kita semua. Proses pengambilan keputusan yang janggal harus kita kritisi dan lawan,” kata Aiman.
Aiman berpendapat, sosok Gibran muncul dari bilik oligarki. Hal itu tidak bisa dinafikkan.
Dia putra presiden dan dia diusung oleh parpol yang saat ini menduduki sejumlah q posisi penting di negara.
Semua kekuatan sudah ditempatkan di setiap sudut kekuasaan.
“Hal inilah yang mengkhawatirkan dan menimbulkan pertanyaan apakah aparat bisa netral dalam Pilpres 2024,” kata Aiman.
Hal yang harus diwaspadai, kata Aiman, yakni terjadinya pengerahan aparat. Contoh penurunan baliho PDIP di Bali tapi baliho Prabowo-Gibran di Medan tidak.
“Faktanya seperti itu. Fakta itu penting dan kalau itu terjadi maka itu harus dilaporkan. Pemilu kali menjadi ujian netralitas aparat negara yang terberat,” pungkas Aiman.













