Sementara itu, Khoirul Umam mengatakan, dinamika di internal Partai Golkar masih sangat kuat, sehingga berpotensi mengancam masa depan kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto termasuk juga konstelasi politik di KIB.
“Golkar merupakan partai politik yang dihuni oleh berbagai macam gerbong kekuatan politik yang tidak tunggal. Akibatnya, masing-masing kekuatan akan saling mengintai dan saling serang,“ tegas Umam hari ini.
Ia menyontohkan pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo menegaskan bahwa Airlangga adalah capres pilihan dari Partai Golkar.
Namun menurut Umam, ucapannya ini bisa mengunci Airlangga.
“Dalam konteks ini, statemen Bamsoet tentang pencapresan Airlangga ini merupakan strategi untuk mengunci langkah Airlangga yang sebenarnya sedang menjalankan “time buying strategy” untuk menantikan dinamika hubungan Istana Presiden & PDIP dalam mencapreskan Ganjar Pranowo,” ungkap Umam.
Bamsoet, kata dia, melihat bahwa kubu Airlangga dan KIB yang mulai menarasikan pencapresan dan pencawapresan dari internal partai.
Jika pencapresan Airlangga dipaksakan, hal itu akan berdampak pada soliditas KIB sendiri.
Sebab, lanjut Umam, partai papan tengah seperti PAN dan PPP cenderung tidak berani memainkan strategi politik yang spekulatif.













