JAKARTA,BERITAMONETER.COM – Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Nasional menyatakan sikap tegas menolak wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto.
Penolakan ini didasari oleh pandangan historis, ideologis, dan konstitusional bahwa langkah tersebut merupakan pengkhianatan terhadap semangat Sumpah Pemuda, nilai-nilai Marhaenisme dan Pancasila, amanat UUD 1945, serta cita-cita luhur Revolusi 17 Agustus 1945.
“Dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, kamu aktivis GMNI Se-Nasional menolak gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto,” ujar Ketua GMNI Jakarta Selatan Deodatus Sundadi Jakarta, Selasa (5/11)
GMNI menilai bahwa rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto bertentangan dengan semangat persatuan yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928.
Selama masa kekuasaannya, rezim tersebut menerapkan politik “divide et impera” yang memecah belah bangsa melalui stigmatisasi terhadap kelompok tertentu, termasuk peristiwa pembantaian 1965–1966.
Pemerintahan Orde Baru juga dikenal dengan pembatasan hak berserikat, pembredelan media, serta pembungkaman suara kritis rakyat.
Selain itu, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang terstruktur telah menimbulkan ketimpangan sosial dan ekonomi yang tajam, menjauhkan bangsa dari cita-cita persatuan dan keadilan sosial yang diperjuangkan para pemuda 1928.















