Pada waktu itu inflasi mencapai 7% mengindikasikan kenaikan harga barang yang tinggi, sementara saat ini inflasi terjaga di 2,7%. Dari sisi nilai tukar, di 2015 Rupiah sempat melemah drastis dari Rp12.800 ke hampir Rp15.000 per USD, sementara saat ini relatif stabil di kisaran Rp14.000. Jadi pelemahan IHSG yang signifikan saat ini lebih banyak dikontribusi oleh faktor fear dibandingkan fundamental. Oleh karena itu kami memandang koreksi IHSG saat ini bersifat sementara dan dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang.
Respon dari pemerintah dan bank sentral berpotensi menjadi support bagi pasar. BI telah melakukan pemangkasan suku bunga acuan dan GWM untuk mendukung likuiditas sistem finansial. Sementara itu pemerintah telah mengeluarkan paket stimulus fiskal Rp10 triliun untuk mendukung sektor yang terdampak seperti pariwisata, penerbangan, dan perumahan. Menurut kami kebijakan ini hanya langkah awal, dan masih ada potensi kebijakan stimulus lebih lanjut dari pemerintah dan bank sentral yang dapat menopang confidence pasar.
Dengan adanya wabah COVID-19 bagaimana target IHSG anda tahun ini? Apakah ada revisi dari target yang dicanangkan di awal tahun?
Di awal tahun ini kami menargetkan IHSG dapat mencapai level 7050 – 7100 yang didasari akan ekspektasi pertumbuhan earnings emiten-emiten sebesar 10%. Target tersebut dicanangkan dengan asumsi kondisi global yang lebih kondusif dengan tensi dagang mereda dan perbaikan ekonomi global secara bertahap. Namun tentunya penyebaran virus ini merupakan black swan event yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global, walau besarannya tentu saja tergantung pada seberapa luas dan lamanya penyebaran virus ini.















