Dia mengungkapkan, lonjakan kinerja keuangan tersebut didorong oleh sinergi dari hasil akuisisi strategis Petrosea terhadap Grup HBS di Papua Nugini dan Grup Hafar di Asia Tenggara.
Kedua akuisisi ini memperluas portofolio bisnis PTRO ke sektor non-batubara, terutama jasa pertambangan emas, serta engineering, procurement, construction and installation (EPCI) migas lepas pantai.
Sementara itu, Direktur PTRO, Kartika Hendrawan mengungkapkan bahwa akuisisi saham Grup HBS senilai USD 25,8 Juta atau sebesar Rp429 miliar yang rampung pada Agustus 2025, menjadi salah satu tonggak penting bagi ekspansi regional Petrosea.
Hendrawan mengatakan, perseroan telah menandatangani conditional sale and purchase agreement (CSPA), sehubungan dengan seluruh saham HBS dan anak perusahaan, dengan total nilai transaksi sebesar AUD40 juta atau sebesar USD25,8 juta.
Melalui langkah tersebut, lanjut dia, PTRO memperluas jangkauan ke sektor pertambangan emas dan mineral bernilai tinggi, sekaligus memanfaatkan basis pelanggan besar HBS, seperti Newmont, St Barbara dan Harmony Gold.
Petrosea menargetkan margin EBITDA dari HBS dapat mencapai 30 persen pada 2026 atau jauh di atas margin proyeksi sebelum akuisisi yang berada di level 21 persen.














