Firdaus Ali mengatakan, alasan kerusakan lingkungan hidup juga mudah dipatahkan, karena sejak 10 terakhir ekosistem di Teluk Jakarta memang sudah rusak. “Sejak 60 tahun lalu ada banyak industri yang membuang limbahnya ke sungai-sungai yang ada dan semua limbah itu berakhir di Teluk Jakarta. Dan sejak 15 tahun terakhir banyak ikan di Teluk Jakarta yang mati,” katanya.
Melihat fakta tersebut, Firdaus Ali justru optimistis dengan adanya reklamasi Teluk Jakarta akan kembali bersih. Contoh soal ini sudah banyak. Marina Bay di Singapura misalnya, saat ini airnya sangat bersih. Begitu juga di negara-negara maju lainnya seperti Tokyo, Shanghai, Dubai dan New York. Mengenai alasan reklamasi akan mengganggu lalulintas kapal nelayan juga tidak terlalu substantif.
Masalah nelayan, kata dia, adalah persoalan sosial yang solusinya bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, lingkungan sosial nelayan sangat kumuh dan kotor. Jika reklamasi dilakukan, para nelayan akan diprioritaskan untuk beralih profesi menjadi karyawan di sana. Kedua, jika mereka tetap memilih menjadi nelayan, maka akan dibangun kampung nelayan di beberapa lokasi, entah di Kamal Muara, Cilincing atau Muara Angke.
Untuk itu, Firdaus, yang tidak menginginkan proyek reklamasi dihentikan, meminta Pemprov DKI Jakarta segera mengeluarkan rancangan pembangunan di Teluk Jakarta, sehingga semua orang tahu. “Kalau proyek ini dihentikan, yang tertawa adalah Singapura. Mereka tidak ingin Jakarta maju, karena kalau terjadi pembangunan di Teluk Jakarta maka otomatis tidak ada yang membeli properti mereka,” katanya.














