Ia menambahkan rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak perempuan, kenyataannya tidak selalu memberi rasa aman. Beberapa remaja mengalami kekerasan seksual di dalam rumah. Bahkan, ada yang terpaksa harus meninggalkan rumah demi keamanan mereka. “Pengalaman pahit bagi anak perempuan yaitu ketika ia dilecehkan oleh ayah tiri, namun ibu yang diharapkan membela tetap memilih ayah tiri atau kakaknya tetap memilih suaminya meski ia melakukan pelecehan terhadapnya sebagai adik ipar. Kekerasan yang dilakukan oleh anak usia dini pun seringkali tidak disadari oleh orangtua. Kami merasa perlu memberikan penyadaran ancaman ini,” tegas Pemerhati Hak Perempuan dan Anak asal Borneo ini.
Pada sesi diskusi lain yang dipandu tiga pemerhati anak perempuan yaitu Bapak Ignasius, Bapak Apheng Arpheles dan Ibu Albina Taisd, dengan peserta anak-anak perempuan yang menempuh pendidikan di Marau, terungkap keprihatinan tentang banyaknya anak perempuan yang putus sekolah karena kehamilan. “Masih dari survei kecil-kecilan kami menemukan 4 dari 10 anak perempuan terpaksa berhenti sekolah karena kehamilan. Bahkan, di satu desa ada 9 dari 10 anak sepanjang tahun ini mengalami hal tersebut,” jelas Theresia Kurniawati.










