Langkah ini dan secara jangka panjang akan memperkuat keuangan TOBA.
Seperti diketahui, listrik yang dihasilkan dari proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara spesifik disuplai untuk mendukung kebutuhan listrik di Batam.
Hal ini sebagai langkah awal yang strategis dalam kontribusi TOBA terhadap pengembangan usaha ramah lingkungan di Indonesia, khususnya di Pulau Batam.
TOBA membukukan laba US$7,9 juta pada 2023, anjlok 86,32% jika dibandingkan US$57,82 juta pada 2022.
Penurunan laba emiten batubara beraset US$947,83 juta per Desember 2023 itu, disebabkan oleh pendapatan bersih yang merosot 21,15% menjadi US$501,26 juta pada 2023, dari US$635,79 juta pada 2022.
Tahun ini, manajemen TOBA menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure ( Capex) sebesar US$200 juta-US$250 juta.
Dana belanja modal tersebut akan digunakan oleh Perseroan untuk menopang pengembangan bisnis energy terbarukan, kendaraan listrik, dan pengolahan sampah.














