Karena kinerja PDI Perjuangan sudah teruji di kota Surabaya, kata Andri, sangat sulit bagi paslon lain untuk merebut simpatik warganya yang rata-rata pemilih rasional.
Memang tidak mutlak memang 100 persen, karena ada juga pemilih dari partai lain.
Tapi itu tidak bisa mengungguli calon yang diusung PDI Perjuangan tersebut.
Lalu bagaimana dengan Jawa Timur?
Kata Andri, sebenarnya pemilih tradisional di Jawa Timur sudah mulai banyak yang berubah menjadi pemilih rasional.
Mereka tidak lagi memilih berdasarkan arahan atau mobilisasi kelompok tertentu.
Tetapi mereka sudah dapat memilih calonnya berdasarkan rekam jejak, visi dan misi calon.
“Sama seperti pemilih di Surabaya, di daerah lain, pemilih tidak lagi tertarik dengan paslon-paslon yang hanya sekadar gimmick atau lips service. Itu sudah ketinggalan jaman,” terangnya.
Menjawab pertanyaan beritamoneter.com soal peluang ketiga paslon di Jawa Timur, Andri mengatakan sejauh ini ketiga memiliki kans yang sama.
Jika ada klaim paslon yang viral yang unggul, Andri justru tidak sependapat.
“Ada paslon yang viral hanya karena joget-joget. Memang persoalan negara seserius ini bisa diselesaikan dengan joget gemoy? Kan tidak. Kita mencari pemimpin yang serius menangani persoalan bangsa. Bukan yang jago joget. Ingat kita pilih pemimpin untuk 5 tahun. Jangan salah pilih,” ujarnya mantap.
Ia menambahkan, kehidupan masyarakat serius.
Kota-kota besar seperti Surabaya tidak punya sawah atau pertanian.
“Kalau suguhi gimmick, tidak akan tertarik. Itu hanya untuk orang-orang yang kurang kerjaan,” pungkasnya.














