JAKARTA-Masyarakat mempertanyakan, karena ada keanehan terkait tingkat imbal balik (yield) penjualan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia yang dinilai terlalu tinggi. Karena sudah berada di atas negara-negara maju. Saat ini data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu menunjukan sekitar 5,26%. “China saja yang ekonomi maju pesat Cuma 3,58%. Lalu Philipina yang ekonominya lebih jelek dari kita, hanya 3,52%, masak Indonesia 5,26%,” kata mantan Menko Perekonomian era Gu Dur, Rizal Ramli di Jakarta,Selasa, (12/3).
Menurut Rizal, biasanya penjualan SUN itu bertenor panjang, sekitar 10 tahun sampai 20 tahun. Jadi bisa dibayangkan kalau bunganya sekitar 1%-2%, dengan tenor sepanjang 20 tahun. Maka total bunga yang menjadi beban sekitar 40%. “Masak kita mencari utang yang bunganya lebih tinggi,” tanyanya.
Lebih jauh kata Mantan Preskom PT Semen Gresik ini, tingginya bunga atau yield surat utang (obligasi) yang ditawarkan pemerintah Indonesia membuat para menteri keuangan Indonesia sangat dicintai investor asing, dan surat utang pemerintah Indonesia laris dibeli asing.
Yang jelas, kata Rizal, saat ini Indonesia mengalami triple deficit, yakni deficit APBN, kemudian deficit perdagangan dan ketiga deficit transaksi berjalan, yang terus menekan nilai mata uang rupiah sehingga bisa merosot. “Dua deficit yang cukup membahayakan, adalah deficit perdagangan dan transaksi berjalan, yang tiba-tiba saja bisa gedebugan perekonomian kita,” ucapnya.













