Sementara menyangkut soal pinjaman, kata Rizal lagi, strategi yang sangat agresif serta berlebihan dengan memberikan bunga tinggi berpotensi merugikan negara. Alasannya, aliran dana spekulatif (hot money ) yang masuk selain berdampak positif bagi nilai tukar rupiah dan indeks, namun juga akan meningkatkan risiko finansial melalui potensi arus balik modal.
Diakui Rizal, utang pemerintah hingga akhir 2012 tembus Rp 1.975,42 triliun atau nyaris mendekati Rp 2.000 triliun. Pinjaman ini naik Rp 166,47 triliun dari periode sebelumnya di 2011. Naiknya jumlah utang RI kali ini dinilai telah meningkat hampir dua kali lipat sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menduduki kursi kepresidenan tahun 2004. “Utang menurut saya makin lama makin besar hampir meningkat 2 kali lipat sejak pemerintahan awal SBY, dari Rp 1.000 triliun ke Rp 2.000 triliun,” tuturnya.
Dikatakan Rizal, meroketnya jumlah utang dinilainya sudah tidak tepat. Hal ini bertolak belakang dengan membaiknya perekonomian Indonesia dan defisit anggaran yang rendah yakni di bawah 3%. “Itu defisit kecil, walapun direncanakan defisit 2% tapi kenyataannya ada sisa anggaran (surplus) 10% jadi gak perlu pinjem,” pungkasnya. **can













