Oleh: Laurensius Bagus- Mahasiswa universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan Aktivis Sosial
Labuan Bajo terus bersolek menjadi destinasi wisata premium, tapi di balik gemerlap hotel berbintang dan kapalpinisi yang berlabuh di dermaga Marina, ada potret lain yang jauh dari keindahan: anak-anak di Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, yang masih berjuang sekadar untuk tetap duduk di bangku sekolah.
Di kampung-kampung seperti Pasir Panjang, Nampar, dan Longos, pendidikan masih menjadi kemewahan yang tidak semua anak bisa nikmati.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Manggarai Barat 2024, angka partisipasi murni (APM) untuk jenjang SMP hanya 72,13 persen — jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 86 persen.
Ini berarti hampir tiga dari sepuluh anak usia sekolah menengah di Boleng tidak lagi bersekolah.
Dari data Dapodik Kemendikbudristek, terdapat 16 sekolah dasar negeri di Kecamatan Boleng dan hanya tiga SMP aktif, salah satunya SMP Negeri 1 Boleng di Desa Nangalili.
Namun, bagi anak-anak yang tinggal di kampung pesisir seperti Pasir Panjang atau di pulau Longos, sekolah itu terasa seperti dunia yang sangat jauh.
Di SD Negeri Pulau Longos, misalnya, data Kemendikbud mencatat sekolah ini berdiri sejak 1956 dan memiliki sekitar 70-an siswa aktif.















