Namun, bangunannya sebagian besar sudah tua, beberapa ruang kelas masih menggunakan dinding papan, dan sebagian atap bocor ketika musim hujan tiba.
Seorang warga Longos menceritakan bahwa ketika gelombang tinggi datang, anak-anak di pulau itu tidak bisa menyeberang ke sekolah karena perahu tak bisa berlayar. Sekolah pun sering sepi selama beberapa hari.
Kondisi serupa terjadi di SD Negeri Pasir Panjang di Desa Pontianak.
Berdasarkan laporan lapangan media lokal Victory News (2024), beberapa ruang kelas di sekolah ini rusak parah.
Dinding kayu lapuk, atap seng berlubang, dan murid harus belajar di bawah pohon saat cuaca panas.
Guru-guru setempat mengaku sering membawa bangku dari rumah agar anak-anak bisa duduk saat pelajaran.
Di tengah situasi seperti ini, motivasi belajar pelajar menurun tajam.
Banyak yang memilih membantu orang tua mencari ikan atau menanam jagung ketimbang datang ke sekolah yang jauh dan tak nyaman.
Masalah terbesar di Boleng bukan hanya soal bangunan sekolah, tetapi akses dan ekonomi. Kecamatan Boleng memiliki kontur wilayah yang sulit: sebagian besar daerahnya berupa perbukitan dan pulau-pulau kecil yang tersebar di sisi barat Manggarai Barat.
Jalan antar desa masih banyak yang belum diaspal, dan jarak antara kampung ke sekolah bisa mencapai 4 hingga 7 kilometer.















