Menurut data BPS NTT Maret 2024, tingkat kemiskinan di NTT masih 19,26 persen, sementara di Manggarai Barat sendiri mencapai 14,8 persen. Dalam kondisi itu, biaya transportasi menjadi beban nyata bagi keluarga.
Seorang tokoh masyarakat di Kampung Nampar menceritakan bahwa beberapa anak di kampungnya memilih berhenti sekolah setelah tamat SD karena tak sanggup menempuh perjalanan ke SMP Negeri 1 Boleng.
Jalan menanjak dan berlumpur, ditambah minimnya transportasi umum, membuat orang tua khawatir.
Jika hujan turun, anak-anak sering tidak berangkat. Setelah beberapa kali absen, mereka akhirnya berhenti total.
Kemiskinan dan jarak bukan satu-satunya faktor. Budaya lokal juga turut berperan.
Di sejumlah kampung pesisir, anak laki-laki sering diminta membantu ayahnya melaut sejak usia 12 tahun, sementara anak perempuan diarahkan membantu pekerjaan rumah tangga atau menikah muda.
Data BPS NTT 2023 mencatat bahwa rata-rata usia menikah pertama perempuan di wilayah Manggarai Barat masih 18,9 tahun — lebih muda dari rata-rata nasional yang berada di 21 tahun.
Ketika pandangan sosial seperti ini masih kuat, pendidikan kerap dianggap sekadar pelengkap, bukan kebutuhan utama.
Guru juga menghadapi tantangan berat. Banyak tenaga pendidik di Boleng adalah guru tidak tetap (GTT) yang harus menempuh perjalanan jauh setiap hari.















