Salah satu usulan yang bisa diterapkan adalah sekolah satelit atau kelas keliling, di mana satu sekolah induk seperti SMP Negeri 1 Boleng membina pos belajar di kampung sekitar, misalnya di Pasir Panjang atau Nampar.
Pola ini pernah berhasil di beberapa daerah kepulauan Maluku dan Papua.
Selain itu, program perahu sekolah juga bisa dikembangkan bekerja sama dengan pemerintah desa atau CSR sektor pariwisata Labuan Bajo.
Masalah lain yang jarang dibahas adalah keterbatasan teknologi pendidikan. Ketika pandemi COVID-19 memaksa pembelajaran daring, hampir semua siswa di Boleng tidak bisa mengakses internet.
Hingga kini, sinyal masih lemah di banyak titik pesisir. Artinya, digitalisasi pendidikan yang dicanangkan pemerintah belum menyentuh anak-anak di ujung barat Flores ini.
Sementara itu, investasi pariwisata terus masuk. Menurut laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2024, ada lebih dari 50 proyek baru di kawasan Labuan Bajo, dengan nilai investasi mencapai Rp5,2 triliun.
Namun, belum ada jaminan bahwa hasil ekonomi dari sektor itu mengalir hingga ke Boleng. Jika pariwisata tumbuh tapi anak-anak setempat berhenti sekolah, maka pertumbuhan ekonomi itu hanya memperlebar jurang sosial.















