Oleh: Petrus Salestinus
Badai banjir dan banjir bandang yang melanda Ibukota Jakarta pada malam Tahun Baru 2019-2020, bisa jadi akan menjadi puncak kemarahan publik terhadap kepemimpinan Anies Baswedan bahkan menjadi mimpi buruk bagi Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta 2017-2023.
Karena kemarahan publik akan berbuah melahirkan krisis kepercayaan publik yang meluas yang akan berakhir dengan gerakan memgimpeach atau mempermakzulkan Anies Baswedan dari kursi Gubernur DKI Jakarta melalui Pernyataan Pendapat atau Hak Angket DPRD DKI Jakarta.
Mengapa mengimpeach atau memakzulkan Anies Baswedan, karena meskipun sudah 2 (dua) tahun memimpin DKI Jakarta, namun Anies Baswedan gagal total mengatasi masalah banjir.
Gubernur hasil jual ayat ini juga gagal mengantisipasi dan mengatasi dampak buruk yang ditimbulkan oleh banjir akibat curah hujan yang tinggi pada bulan-bulan tertentu seperti Desember dan Januari datnya.
Publik sudah mulai gerah dan kehilangan kesabaran untuk menunggu sampai 2023, karena persoalan ketidakbecusan Anies Baswedan dalam mengelola Pemerintahan DKI Jakarta tidak bisa ditutupi lagi.
Kasus munculnya angggaran siluman yang ditemukan oleh DPRD DKI Jakarta meski kemudian dikoreksi, menjadi pertanda publik mampu melihat ada kong kalingkong antara Eksekutif dan beberapa anggota DPRD DKI dalam mempermainkan uang rakyat.













