Selain itu, TKDD mencapai Rp757,8 triliun (98,9 persen dari APBN 2018). Realisasi tahun ini antara lain dipengaruhi oleh penyelesaian sebagian kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH) sampai dengan tahun 2017 sebesar Rp4,6 triliun dan kinerja penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, DAK Non Fisik, dan Dana Desa yang lebih baik. Alokasi anggaran TKDD dilakukan dengan memperhatikan kinerja penyerapan dan capaian output . Pada tahun 2018, perbaikan mekanisme penyaluran TKDD telah dilakukan, antara lain melalui perbaikan penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa berbasis output yang telah dilaksanakan sejak tahun 2017; sinkronisasi pengalokasikan DAK dan belanja K/L melalui sistem terintegrasi; dan percepatan penyelesaian pembayaran kurang bayar DBH.
Realisasi pembiayaan pada tahun 2018 mencapai Rp300,4 triliun. Realisasi tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pembiayaan tahun 2017 yang sebesar Rp366,6 triliun. Penurunan realisasi pembiayaan tersebut diiringi dengan penurunan realisasi pembiayaan utang neto. Kebijakan ini ditempuh dalam rangka menjaga ketahanan ekonomi dan fiskal serta efisiensi APBN di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global dan tren peningkatan suku bunga serta penguatan mata uang dolar AS. Secara nominal, realisasi pembiayaan utang neto pada tahun 2018 hanya sebesar Rp366,7 triliun (91,8 persen APBN), dengan rasio utang terhadap PDB terjaga pada kisaran 30 persen. Realisasi pembiayaan utang tersebut juga mempertimbangkan kebijakan pengembangan pasar SBN (financial deepening), peningkatan investor ritel domestik, dan peningkatan peringkat kredit Indonesia menjadi investment grade.













