Sementara itu Direktur eksekutif Manilka research & Consulting
Dani Akhyar mengaku penelitian ini ingin mengungkap apakah ada korelasi kekuasaan, yakni antara power dan konglomerasi, konsolidasi. “Bagaimana sebenarnya, kontrol dari bisnis transportasi online yang selama ini kita nikmati. Karena bisnis transportasi online itu, ada dua sisi. Pertama, sisi pertama menyelesaikan beberapa masalah transportasi dari yang tergantung dengan ojek pangkalan dan taksi yang mahal, tetapi sekarang bisa murah,” terangnya.
Dari sisi, kata Dosen Universitas Multimedia ini menambahkan transportasi online ini, ternyata fiturnya banyak dan soal keamanan lebih bagus. Bisa untuk pijat, pengiriman paket dan sebagainya. Ini yang disukai masyarakat. Namun sayangnya, mitra pengemudi berteriak dan memprotes, karena kesejahteraannya malah menurun. “Sampai mereka melakukan demo besar, nah ini yang perlu diperhatikan. Tuntutan mereka agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan mereka. Karena itu perlu ditengahi. Pemerintah dalam hal ini menjadi regulatormnya,” ungkapnya.
Disinggung transportasi online menjadi bom waktu, Dani tak membantahnya. Karena perkembangan transportasi online ternyata masih disiasati oleh biaya marketing dan promosi yang besar. “Operator banyak mengumbar bonus, banyak diskon, dan sebagainya. Nah ini sampai kapan. Mereka harus bakar uangnya’ mau sampai kapan,” tuturnya.















