Dikatakan Dani, kondisi ini tentu menjadikan seolah-olah seperti bom waktu ekonomi. “Bisa dibayangka, bagaimana bonus yang sudah diberikan kepada mitra pengemudi tiba-tiba dihapus, mereka pasti akan protes. Sudah merasa kesusahan lalu dihapus. Jadi ini dilema juga. Ini dilema juga bagi aplikatror, karena mereka sudah banyak bakar uang untuk menarik banyak trafic,” cetusnya.
Menurut Dani, selama ini regulasi belum mencakup hubungan kerja antara perusahaan aplikasi dengan para pengemudi ojek online bahwa yang namanya ojek adalah alat transportasi. “Punya dualisme bisnis, satu bisnis aplikasi satu lagi manfaatkan trabspoortasi. Walaupun bisnisnya sebenarnya bisnis aplikasi. Namun itu harus terus digodok agarn masalah transpirtasi online ini bisa diatasi. Solusinya, ya terbitkan aturan tadi, terutama regulasi tentang tranportasi online,” imbuhnya.















