“Selama pandemi, terjadi shifting perubahan perilaku dari pejalan kaki ke kendaraan pribadi atau kendaraan penumpang sehingga terjadi peningkatan pada kendaraan penumpang. Sedangkan untuk logistik, kenaikan didukung regulasi bahwa tidak ada pembatasan pergerakan untuk kendaraan logistik, khususnya pada periode libur hari raya,” jelasnya.
Selain itu, kinerja positif juga didukung program pengendalian biaya melalui langkah efisiensi yang ditunjukan dengan operating ratio 72,05 persen lebih rendah dibanding 2020 sebesar 76,91 persen.
Selanjutnya, BOPO 2021 sebesar 91,51 persen lebih rendah dibanding 2021 sebesar 98,39 persen.
Hal ini menunjukan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan efisiensinya dengan adanya pengendalian keuangan terhadap realisasi beban pokok dan beban usaha.
Hal yang sama dengan peningkatan cash ratio sebesar 276,58 persen tumbuh sebesar 88,5 persen dari 2020, dan current ratio sebesar 324,45 persen tumbuh sebesar 87,78 persen dari 2020.
“Dari kondisi ini, posisi ASDP menjadi perusahaan solvable, yakni memiliki kemampuan untuk membayar seluruh total hutangnya menggunakan total aset sebesar 15,98 persen, dan Debt to Equity 8,67 persen,” tutur Ira.
Selain itu, pada 2021 ASDP juga berhasil membukukan nilai EBITDA positif sebesar Rp790,83 miliar, tumbuh sebesar 42,17 persen dari 2020 sebesar Rp556,24 miliar.












