Askrindo kata dia juga berhasil mengendalikan biaya usaha dibawah anggaran dengan total biaya sebesar 204,5 miliar rupiah.
Sedangkan anggaran yang dipersiapkan mencapai 215,7 miliar rupiah.
“Sehingga pencapaian di 2012 ini berada sekitar 6 persen terhadap anggaran. Kalau dibandingkan dengan realisasi 2011, itu meningkat 15,17 persen dengan jumlah 177,6 miliar rupiah,” jelas dia.
Walaupun di 2012 meningkat dibanding 2011, peningkatan biaya ini masih dibawah hasil underwriting. Pendapatan dari hasil underwriting ini meningkat 36,7 persen, investasi juga meningkat 57,7 persen.
Peningkatan investasi ini terjadi karena setiap tahun Askrindo mendapat PNM KUR sebesar 831 miliar rupiah sehingga otomatis volume aplacement meningkat.
“Aplacement yang dilakukan Askrindo saat ini 85 persen di perbankan dalam bentuk deposito resiprokal. Disebut deposito resiprokal karena deposito ini ditempatkan di perbankan yang memiliki mitra usaha dengan Askrindo. Sehingga tidak saja dalam bentuk imbal jasa suku bunga, tetapi juga meningkatkan penutupan pertanggungan,” kata dia.
Pendapatan biaya lain, di 2012 sebesar 35,6 miliar rupiah. Ini berasal dari penarikan atau koleksi dari investasi bermasalah sebesar 44,6 miliar rupiah. Dan kami berhasil menarik sebesar 35, 6 miliar rupiah. Pada 2011, pencapaian pendapatan dari biaya lain mencapai 31,7 miliar rupiah. Ini berasal dari penarikan investasi bermasalah sekitar 30 miliar rupiah,” pungkas dia.














