Tingkat pengangguran secara global – termasuk di Indonesia – belum kembali pada level full employment sehingga stimulus yang dikeluarkan tidak memberikan tekanan inflasi tinggi. Stimulus saat ini lebih bersifat menopang daya beli, bukan sebagai booster tingkat pengeluaran yang dapat menyebabkan inflasi.
Pasar saham dan obligasi mencatat kinerja negatif di bulan Januari, bagaimana komentar anda terkait kondisi ini?
Secara fundamental, rilis data ekonomi di bulan Januari masih sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga menurut kami pelemahan di bulan Januari bukan disebabkan karena terjadi perubahan faktor fundamental.
Volatilitas pasar di bulan Januari lebih disebabkan oleh faktor teknikal, di mana pasar sudah menguat berturut-turut di periode Oktober – Desember sehingga rawan terhadap aksi ambil untung.
Di bulan Februari juga akan dirilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia dan emiten akan mulai merilis laporan keuangan kuartal IV-2020 sehingga ini juga dapat menjadi faktor bagi pasar untuk konsolidasi dan mencerna rilis data tersebut lebih dulu.
Pada masa pandemi peran investor ritel dalam pasar saham membesar. Apakah ini menjadi kekhawatiran, terutama setelah fenomena saham Gamespot di Amerika Serikat yang sempat menyebabkan volatilitas di pasar saham Amerika Serikat?














