Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pelaku usaha batik di Indonesia didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di 101 sentra. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang. Nilai ekspor kain batik dan produk batik pada 2016 mencapai USD149,9 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. “Data tersebut menunjukkan bahwa industri batik memiliki peran penting bagi penggerak perekonomian nasional melalui penumbuhan wirausaha, penyedia lapangan kerja, dan penyumbang devisa negara,” papar Airlangga.
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dalampengembangan batik warna alam Indonesia. “Misalnya, pengembangan batik warna alam yang memiliki ketahanan cuci dan gosok, sehingga warnanya lebih tahan lama. Untuk itu, diperlukan teknik pewarnaan alam yang lebih efisien,” tuturnya.
Dalam mendukung pengembangan industri batik nasional, Gati mengemukakan, Ditjen IKM Kemenperin telah melakukan berbagai kegiatan strategis, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran. “Program ini diberikan kepada para perajin dan pelaku usaha batik untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas produksinya,” jelas Gati.














