“Saya juga telah meminta para kader dan anggota PMII seluruh Indonesia untuk benar-benar menyatukan NKRI dalam situasi seperti ini dan menghindari perbedaan. Jika mahasiswa tidak melindungi NKRI lalu siapa lagi yang akan melindungi – sementara banyak elit politik bermain berdasarkan kepentingannya semata,” ujar Aminuddin.
Sementara itu, Angelo Wake Kako menjelaskan, NKRI dan Pancasila sudah final. Jangan terprovokasi dengan situasi yang terjadi di Jakarta.
Menurut Ketua Umum PP PMKRI itu, kehadiran mereka di Pontianak dalam rangka mengajak semua elemen bangsa, khususnya yang ada di daerah-daerah untuk merapatkan barisan serta bersatu memupuk kembali semangat kebangsaan Indonesia yang jelas terkoyak dengan peristiwa Jakarta.
“Kepada Mahasiswa Katolik seluruh Indonesia yang tergabung dalam PMKRI ataupun tidak, disarankan untuk tidak pernah menyerah membangun simpul kebangsaan dengan pihak manapun demi NKRI. Justru di saat seperti ini, bangsa Indonesia terbuka matanya, siapa yang menerima Pancasia ataupun tidak. Pancasila merupakah landasan kehidupan berbangsa Indonesia dan itu sudah final. Semua rakyat harus bersatu mempertahankannya,” ujar Angelo.
Alexander Bumbun mengatakan bahwa pemuda dan mahasiswa MADN yang tersebar di seluruh Indonesia sudah diinstruksikan untuk menjaga Indonesia. Pemuda Jakarta, menurut Bumbun, tidak pernah paham seperti apa konflik horizontal dan efeknya seperti apa. “Kami ini sangat menyadari tidak mudah membangun kepercayaan dalam situasi konflik horizontal. Kalau sudah terjadi konflik membangun kepercayaannya yang sulit. Dan di seluruh Indonesia, tidak ada satupun daerah lain yang pernah merasakan kengerian seperti di Kalbar saat konflik horizontal terjadi di antara masyarakat. Masyarakat Kalbar sangat mengerti apa artinya konflik horizontal dan akibatnya,” tegas Bumbun.













