Oleh: Dr. Emrus Sihombing
Sebelum membahas bahaya hoax (bohong atau kebohongan) dalam suatu sistem sosial (negara), perlu diurai pemadanan kata “berita” dengan kata “hoax,” dan kata “informasi” dengan kata “hoax”, untuk melihat makna pemasangan kata tersebut.
Hal ini penting agar terjadi pemahaman yang tepat di ruang publik. Selama ini terjadi pemasangan kata tersebut terus menerus sehingga seolah diterima sebagai benar pula.
Wacana tentang hoax (berbohong) mengemuka lagi di ruang publik di ujung awal tahun baru 2022 ini dengan menyertakan diksi “berita hoax” dan “informasi hoax”.
Pemakaian kata “berita” di depan kata “hoax” (bohong) sebagai kebiasaan yang kurang tepat.
Bila merujuk pada berbagai definisi, berita (news) itu pasti berdasarkan fakta, data, bukti yang telah melalui proses check and recheck yang ketat.
Jadi, berita itu bukan hoax. Berita, ya berita. Hoax, ya hoax. Dengan demikian, berita berada di posisi berseberangan dengan hoax.
Sedangkan informasi dapat didefinisikan sebagai suatu yang dapat mengurangi ketidakpastian. Karena itu, informasi berbasis fakta, atau kejadian, atau peristiwa (benar terjadi). Jadi, hoax itu berbeda dengan informasi.
Informasi, ya informasi. Hoax, ya hoax. Dengan demikian, informasi berada di kutub yang berbeda dengan hoax.












