“Di Banyuwangi, pax movement lebih tinggi dibanding aircraft movement. Ini sangat positif, pesawat di-utilise lebih baik. Saat ini sedang didorong 16 flight a day menjadi 20 a day pada tahun ini juga. Termasuk international flight, salah satunya,” ujar Awal.
Saat ini, pembangunan infrastruktur Bandara Banyuwangi terus dikebut. Runway terbangun 2.250 meter, tapi diumumkan 1.800 meter. Namun karena obstacles sudah hilang, akan segera diumumkan sesuai 2.250 meter. Saat ini menunggu verifikasi dari Kementerian Perhubungan.
Sementara, lebar runway existing 30, akan menjadi 45 meter. Status PCN masih 27 (menunggu verifikasi Kemenhub karena sudah ditingkatkan ke 37), akan diupgrade jadi 56 dimana pengerjaannya akhir Juni ini. Apron bakal ditambah 23 ribu m2, existing (18rb), total 41 ribu m2 bisa tampung 9 pesawat narrow body jenis 737 800- 900. A320.
“Semua pengerjaan tersebut, akan selesai awal September. Artinya kesiapan utk pertemuan IMF-WB aman. Dengan spesifikasi infrastruktur seperti itu juga, Banyuwangi sudah bisa jadi international airport,” kata Awal.
Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat mendukung Bandara Banyuwangi menjadi international airport. Menurutnya, untuk menjadi international airport, harus diperhatikan infrastrukturnya.
“Untuk pengembangan Bandara Banyuwangi, akan kita head to head dengan Bandara Silangit. Kita harus memikirkan Bandara Banyuwangi sebagai bandara tourism airport,” ujar Menpar Arief Yahya.
Berdasar data, di Indonesia, AirAsia terbesar untuk rute internasional, menguasai 32 persen flight ke Indonesia, disusul Garuda Indinesia urutan kedua. Sementara kalau domestik, yang melayani Lion Air. Hampir separuh penerbangan yang ada di Indonesia.













