Oleh: Agustinus Dawarja
Bang Buyung Yang Terhormat. Salam hormat dari saya atas kehormatanMu.
Tentang Abang sedikit saya lukiskan kisahMu.
Suatu ketika di tahun 1987, saat aku duduk di sekolah menengah atas di Seminari Pius XII Kisol Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), saya membaca nota pembelaanMu dalam kasus HR Dharsono.
Nota pembelaan tersebut adalah sebuah stensilan fotokopi, entah siapa yang membawanya ke seminari tempat aku belajar.
Di sebuah sudut ruangan perpustakaan, agak kusut stensilan fotokopi itu. Aku memulai membacanya. Halaman demi halaman kubuka.
Saat itu pemerintahan Soeharto sangatlah keras bahkan dalam beberapa terminologi disebut sebagai militerisme.
Pembelaanmu atas HR Dharsono telah memberikan inpirasi besar bagiKu untuk memutuskan tidak menjadi Imam Pastor Katolik tetapi memilih menjadi Pengacara/Advokat seperti diriMu.
Aku memang tidak akan seperti diriMu kini dan juga tidak mau bermimpi seperti diriMu. Aku juga membaca berita tentang sidang kode etik atas dirimu yang dianggap melakukan contempt of court.
Adalah Ismael Saleh yang menjadi menteri kehakiman saat itu.
Dalam sebuah buku tulisan Luhut Pangaribuan tentang Luhut M.P. Pangaribuan, S.H.LLM dengan judul Advokat dan Contempt of Court, dokumen-dokumen tentang diriMu cukup terdokumentasikan dengan baik.













