Disinggung soal peran aktif Presiden Jokowi dalam unifikasi Korea, Song mengakui posisi Indonesia bisa diterima oleh kedua Korea. “Presiden Jokowi juga sangat inten terhadap masalah Korea. Bagi Indonesia, Korea juga sangat penting dalam meningkatkan kerjasama ekonomi,” paparnya.
Sementara itu Perwakilan NUAC Korea-Indonesia, Alia Anindita Kiemas yang diundang dalam kegiatan tersebut mengatakan upaya penyatuan Korea tidak hanya melalui urusan olahraga saja, namun juga lewat jalur bisnis. Apalagi perdagangan melalui e-commerces terus berkembang. “Sektor e-commerces yang makin pesat, bisa menjadi alat penyatuan dua Korea. Karena itu, kerjasama perdagangan Indonesia dan dua Korea harus terus ditingkatkan,” jelasnya.
Alia menambahkan Indonesia sebagai negara besar di Asia tentu berharap ada stabilitas kawasan, terutama di Semenanjung Korea. “Jadi harapan besarnya, terjadinya unifikasi Korea seperti yang terjadi di Jerman Barat-Jerman Timur. Hal ini sejalan dengan konstitusi Indonesia yang aktif menjaga misi perdamaian dunia sebagai bentuk realisasi pelaksanaan amanat pembukaan UUD 1945,” tambahnya.
Lebih jauh kata Alia, kegiatan NUAC di Indonesia sekaligus menunjukkan eksistensi organisasi ini di mata Internasional. Pimpinan NUAC ini menjabat selama dua tahun, setelah itu dipilih kembali. “Jadi peran NUAC sendiri juga membutuhkan dukungan beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” imbuhnya.














