Rehabilitasi dan rekonstruksi rumah akan dilakukan serentak secara gotong royong atau swakelola sehingga ditargetkan bisa selesai dalam waktu 6 bulan. Jumlah rumah rusak yang sudah teridentifikasi saat ini sebanyak 125.741 unit dimana 32.717 unit rumah sudah diverifikasi. Dengan jumlah sebesar itu, kebutuhan tenaga pendamping masyarakat diperkirakan sekitar dua ribuan orang. Oleh karena itu selain dari Kementerian PUPR, tenaga pendamping juga berasal dari mahasiswa dan masyarakat.
Kedatangan insinyur muda PUPR akan menambah jumlah tenaga pendamping yang sudah ada yakni sebanyak 110 relawan mahasiswa UGM, Univ. Brawijaya dan Univ. Mataram, tim Balitbang PUPR dan fasilitator relawan dari unsur masyarakat. Jumlah ini masih akan bertambah dengan akan datangnya relawan mahasiswa dari PTS/PTN pada bulan September dan Oktober 2018.
“Ini bukan wisata gempa bumi. Jaga kredibilitas Kementerian PUPR. Dalam mendampingi masyarakat harus menjaga sopan santun, kompak dan dapat bekerja sama dengan baik. Kalian bekerja tidak sendirian, disana ada institusi lain seperti TNI, Polri, BNPB, juga para penggiat masyarakat lainnya,“ kata Menteri Basuki..
Para CPNS PUPR bersama TNI, Polri, BNPB, mahasiswa dan relawan akan menjadi satu tim. Satu tim terdiri dari 9 orang yang akan bertugas mendampingi 100 rumah. Mereka akan disebar di 4 wilayah yaitu Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Sebelum diterjunkan ke masyarakat, 400 insinyur muda tersebut akan mendapatkan pelatihan mengenai pembuatan dan perakitan Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) dan Rumah Instan Kayu (Rika) yang merupakan inovasi rumah tahan gempa Balitbang Kementerian PUPR.














