Adrinof menegaskan pembagian BLSM amburadul karena data BPS sudah kadaluarsa. Data BPS 2011 seharusnya diperbaharui untuk kepentingan sekarang. Tapi, karena nekad digunakan sekarang, maka tak terelakkan, banyak orang yang sudah meninggal masih diberi jatah, penerima pindah rumah, dan sudah berubah status menjadi tidak miskin lagi.
Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Golkar Tubagus Ace Hasanudin menyatakan, data 15 juta kaum miskin yang diapakai oleh pemerintah untuk pembagian BLSM memang sangat tidak cocok lagi, karena hal itu merupakan hasil sensus tahun 2011. Seharusnya ada sensus baru agar jumlah kaum miskin yang ada sekarang benar-benar cocok dengan kenyataan.
Menurut Ace, pemerintah sendiri sudah menyatakan, jumlah angka kemiskinan sudah turun sekian persen. Ini artinya, kalau masih memakai data BPS 2011, jelas bertentangan dengan penjelasan pemerintah itu sendiri. Data itu makin mendesak untuk diperbarui, karena juga untuk pemabgian raskin (Beras untuk keluarga miskin), dan Bantuan Sosial Miskin (BSM). “Kemungkinan besar, jumlah 15,5 juta rakyat miskin itu memang sudah berubah, jadi perlu pendataan lagi,” ujarnya.
Ace juga menjelaskan, kepada Komisi VIII DPR, PT Pos sudah menjelaskan, setelah pemerintah membagikan 10 juta Kartu Perlindungan Sosial (KPS), ternyata sejak 30 Juni 2013 ada 9386 KPS yang dikembalikan. Ini karena ada yang salah sasaran, misalnya yang meninggal 12%, salah penerima 16%, pindah alamat rumah tanpa pemberitahuan 53%, tidak dikenal ada 21%, pindah, dan sebab lainnya. (winoto)















