BANYUWANGI-Pemkab Banyuwangi menggenjot habis-habisan Industri pariwisatanya melalui eco tourism. Bahkan sektor pariwisata menjadi andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun begitu Pemkab Banyuwangi melarang pendirian hotel kelas melati, karena dikhawatirkan akan berdampak negatif.
“Kami buat policy, tidak ijinkan hotel melati dibangun di Banyuwangi. Karena hotel melati ini kalau dirazia satpol PP isinya bukan wisatawan,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai pembukaan sosialisasi 4 Pilar di Pendopo Banyuwangi, Jumat (25/11/2016).
Salah satu alasan penolakan hotel melati, kata Anas, masalahnya pariwisata ini lebih dekat ke kiri dikit “freesex”.
“Kita bukan seperti Bali karena mayoritas di sini masyarakat muslim,” ucapnya seraya menambahkan bisa dilihat bagaimana wisman mengunjungi salah satu lokasi wisata yang cukup favorit yakni kawasan Ijen.
Menurut Anas, pembanguhan hotel kalau tidak dikendalikan dalam industri pariwisata ini maka akan tumbuh hotel-hotel yang nggak jelas.
“Coba lihat ke kawasan Ijen, tidak akan temukan hotel-hotel semacam itu. Dan tidak ada reaksi yg berat karena urusannya bukan maksiat atau tidak maksiat. Ini urusannya segmentasi pasar,” ungkapnya
Banyuwangi fokus ke eco-tourism. Karena fokus ke sana maka wisata hiruk pikuk tak akan mengijinkan. “Jadi kami tak ijinkan karaoke baru, diskotik baru,” cetusnya sambil menjelaskan justru pada
2010, investasi pada sektor pariwisata malah naik.













