“Ini (jagung pakan) sangat menentukan mengenai besarnya harga telur yang diproduksi kami para peternak. Karena itu, kami mendukung apa yang sudah dicanangkan Badan Pangan Nasional untuk membentuk satu eksositem pangan di mana petani jagung, peternak, dan pedagang semuanya saling bekerja sama dan menghasilkan pangna yang memadai.” ujarnya.
Adapun KSA BPS amatan Juni 2024 mencatat, neraca jagung pada Januari – September 2024 masih mengalami surplus sekitar 30 ribu ton di mana produksi jagung bersih diperkirakan mencapai 10,43 juta ton, sementara kebutuhan 10,40 juta ton.
Sementara khuus untuk Provinsi NTB potensi luas panen pada Juli – September 2024 mencapai 32.906 hektar.














