JAKARTA-Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Sutriono Edi secara resmi membuka peluncuran kontrak berjangka komoditas untuk kontrak berjangka kopi robusta dan kopi arabika, serta kontrak berjangka emas dan pasar fisik karet di Bursa Berjangka Jakarta (PT BBJ). Peluncuran kontrak berjangka ini bertujuan mendorong bursa berjangka agar terus mengembangkan kontrak berjangka komoditas baru dan secara inovatif merancang dan memodifikasi kontrak berjangka turunannya. “Diharapkan fungsi bursa yang sangat strategis, dalam rangka penyediaan sarana demi terselenggaranya transaksi perdagangan berjangka, benar-benar dapat dirasakan manfaatnya bagi pelaku usaha yaitu sebagai sarana lindung nilai (hedging), sarana pembentukan harga (price discovery), dan alternatif investasi yang sangat diperlukan bagi pelaku usaha untuk melindungi usahanya,” ujar Sutriono di Jakarta, Jumat (20/12).
Dia menjelaskan, kopi merupakan komoditas yang sangat tepat untuk diperdagangkan di Bursa Berjangka. Apalagi, Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ke-3 dunia setelah Brasil dan Vietnam. Tahun lalu produk kopi tercatat sebesar 748 ribu ton per tahun atau 6,6% dari produksi dunia. Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta yang mencapai lebih dari 601 ribu ton (80,4%) dan produksi kopi arabika yang mencapai lebih dari 147 ribu ton (19,6%). Selain itu, luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektare, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta hektare dan kopi arabika seluas 0,3 hektare.












