JAKARTA – PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) mencatat kerugian sebesar US$18.852 pada 2024, turun signifikan 99,5% dibanding rugi US$3,66 juta pada tahun 2023.
Kerugian NIKL yang berkurang drastis itu berkat efisiensi operasional yang dijalankan oleh Perseroan sepanjang tahun lalu.
Manajemen NIKL berhasil menekan turun beban pokok penjualan sebesar 25,46%, dari US$169,50 juta pada 2023, menjadi US$146,33 juta tahun 2024.
Penurunan beban pokok ini mendorong laba kotor Perseroan melambung 492,71% jadi US$9,39 juta pada 2024 dibanding US$1,58 juta pada tahun 2023.
Di sisi lain, beban administrasi dan beban keuangan NIKL juga turun, masing-masing 19,03% ke US$2,75 juta dan 8,9% jadi US$3,48 juta pada 2024.
Pada saat yang sama, Perseroan mencatat kenaikan penjualan scrap sebesar 12,58% jadi US$1,42 juta pada 2024, dari US$1,26 juta tahun 2023.
Pendapatan lain-lain NIKL juga naik 62,17% jadi US$792.442 pada 2024, dari US$488.635 pada tahun 2023.
Akumulasi penurunan berbagai beban operasi tersebut mendorong Perseroan mencatat laba sebelum pajak sebesar US$308.707 pada 2024.
Di tahun sebelumnya 2023, NIKL menderita rugi sebelum pajak sebesar US$4,82 juta.
Seperti tergambar dalam laporan keuangan NIKL tahun 2024 yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Kamis (13/2/2025), penjualan bersih Perseroan turun 8,97% jadi US$155,72 juta pada 2024, dari US$171,08 juta pada tahun 2023.














