JAKARTA-Bank Indonesia (BI) menganggap pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang menembus Rp12.000 masih dalam batas kewajaran, karena terdepresianya nilai tukar ini lebih bersifat sementara akibat faktor eksternal. “Yang penting BI akan terus berada di pasar dan meyakini bahwa rupiah harus terjaga stabilitasnya. Kita harus paham bahwa kondisi perbaikan di AS memang selalu menjadi perhatian investor sekarang ini,” ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, Jumat, (3/10).
Sejauh ini jelasnya BI terus mengamati dan mencermati volaititas rupiah agar tetap berada sesuai dengan dinamika fundamental ekonomi. “Jadi, kondisinya risk-off, tetapi kadang-kadang risk-on. Tetapi lebih banyak risk-off yang terjadi,” ucapnya.
Lebih lanjut Agus Marto menilai, penetapan pimipinan DPR yang diisi perwakilan dari fraksi Koalisi Merah Putih dan Fraksi Partai Demokrat tidak memberi dampak besar terhadap pelemahan rupiah. “Pengaruh yang besar adalah pengaruh dari luar (negeri), tentu ada juga pengaruh dari domestik,” katanya.
Gubernur BI mengatakan, pelemahan rupiah juga terpengaruh dari adanya kewajiban membayar utang luar negeri. “Kebetulan juga di pasar modal ada investor asing yang melepas (investasinya). Tetapi, kami melihat inflasi terjaga, kemarin neraca perdagangan ada defisit kembali,” ujar Agus Marto.















