Berdasarkan data dari BPS, lanjut I Nyoman Ariawan, pihaknya mencatat ada 437.000 UMKM di NTT.
Dari jumlah tersebut, jumlah UMKM yang sudah akses ke perbankan baru sekitar 130.000-an.
“Nah ini yang harus kita dorong lagi sisanya sehingga mereka punya akses kepada lembaga keuangan baik itu perbankan maupun non perbankan,” tegasnya.
Ditambahkannya, BI KPw NTT juga mendorong pembayaran transaksi ekonomi semuanya terdigitalisasi.
Transaksi ekonomi yang dimaksud antara lain:
Pertama adalah elektronifikasi transaksi pemerintah.
Kedua, adalah dunia usaha, khususnya UMKM.
“UMKM targetnya tahun ini bisa mencapai 69.000 QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), sekarang baru tercapai 35.800 QRIS. Kita genjot dengan teman-teman PJSP termasuk BPD Bank NTT. Bahkan bagi usaha mikro dalam memperoleh QRIS tidak dikenakan biaya. Jadi ini beberapa hal yang kita lakukan sehingga teman-teman UMKM bisa lebih akselerasi lagi,” ujarnya.
Terkait dengan pertumbuhan kredit di NTT, I Nyoman Ariawan menjelaskan bahwan target tahun ini sudah ditetapkan oleh OJK yang punya ranah pertumbuhan kredit.
“Tetapi kalau pertumbuhan kredit kepada UMKM itu adalah Bank Indonesia. Kita targetkan tahun ini kredit bagi UMKM bisa tumbuh sebesar 16 hingga 19 persen,” pungkasnya.













