JAKARTA– Keputusan Bank Indonesia (BI) yang memangkas tingkat suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen dinilai sebagai angin segar bagi pasar obligasi, terutama bagi nasabah bank yang saat ini masih menempatkan dana di instrumen deposito.
Penilaian itu disampaikan oleh Head of IPOT Fund & Bond PT Indo Premier Sekuritas (IndoPremier), Dody Mardiansyah di Jakarta, Kamis (22/5).
Dia menjelaskan, penurunan suku bunga telah menciptakan peluang menarik di pasar obligasi, khususnya nasabah bank yang menempatkan dana di deposito.
Dia mengatakan, obligasi yang telah dirilis oleh penerbit dan beredar di pasar sekunder, pada umumnya menawarkan tingkat kupon lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi yang baru terbit di tengah tren penurunan suku bunga.
“Ketika suku bunga turun, harga obligasi lama akan naik, karena investor bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dari kupon tetap tersebut. Hal ini terjadi sebagai bentuk penyesuaian pasar agar yield obligasi lama selaras dengan suku bunga acuan yang baru,” jelas Dody.
Perlu diketahui, langkah BI yang menurunkan tingkat suku bunga acuan sekaligus mencerminkan kepercayaan bank sentral maupun pemerintah terhadap stabilitas makroekonomi dan terkendalinya inflasi dalam kisaran target.















