Pelonggaran moneter ini juga sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dan investasi.
“Dengan bunga deposito yang cenderung turun mengikuti BI Rate, banyak investor mulai melirik instrumen yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi. Permintaan meningkat, harga obligasi naik dan investor bisa menikmati capital gain selain kupon yang tetap,” ungkap Dody.
Dia mencontohkan obligasi pemerintah FR0096 di IPOT Bond yang akan jatuh tempo pada 2033 dengan kupon 7 persen.
Apabila tingkat suku bunga berada di angka 5,75 persen, sehingga hanya mempunyai spread sebesar 1,25 persen atau sebanyak 125 basis poin.
“Jika suku bunga diturunkan 25 bps atau 0,25 persen ke 5,5 persen, maka spread akan melebar menjadi 150 bps, hal ini membuat FR0096 jauh lebih menarik dan membuat demand naik, yang akhirnya berimbas pada harga obligasinya yang akan naik juga,” tuturnya.
Dody beranggapan, penurunan suku bunga merupakan sinyal yang sangat positif bagi pasar keuangan.
Penurunan ini mengindikasikan adanya ruang untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan obligasi sebagai instrumen pendapatan tetap akan memainkan peran krusial dalam portofolio investasi pada kondisi saat ini.















